Tentang Dojo
Sejarah ShoHeiKan Aikido Dojo dan perjalanan Aikido di Yogyakarta.
Sejarah Aikido di Yogyakarta
Perkembangan aikido di Yogyakarta tidak dapat dipisahkan dari sosok almarhum Laddy Lesmana, yang akrab disapa Pak Lesmana. Beliau merupakan pelopor yang memperkenalkan dan mengembangkan aikido di Yogyakarta melalui dedikasi serta kecintaannya terhadap seni bela diri tersebut.
Ketertarikan Pak Lesmana terhadap aikido berawal dari pencariannya akan sebuah seni bela diri yang tidak hanya mengembangkan kemampuan fisik, tetapi juga mengasah kepekaan rasa dan pengendalian diri. Nilai-nilai tersebut ternyata sejalan dengan prinsip yang pernah beliau pelajari dalam bela diri lain. Kesamaan tujuan inilah yang kemudian mendorong beliau untuk mendalami aikido lebih jauh.
Pada masa itu, Yogyakarta belum memiliki dojo aikido. Kebetulan, sebuah dojo aikido baru saja berdiri di Semarang. Pak Lesmana bersama rekannya, Pak Handoko, rutin berlatih di dojo tersebut. Saat itu, perkembangan aikido di Indonesia dibimbing oleh Maeda Sensei (Dan 5), seorang instruktur yang ditugaskan oleh Japan International Cooperation Agency (JICA) untuk mengajarkan aikido di Indonesia selama dua tahun.
Dalam perjalanannya berlatih di Semarang, Pak Lesmana bertemu dengan Haris, seorang aikidoka asal Bandung yang saat itu berstatus sabuk cokelat dan sedang menempuh pendidikan di salah satu SMA di Yogyakarta. Bersama Pak Handoko, Haris, serta dukungan Pak Suyoto, muncul gagasan untuk mendirikan dojo aikido pertama di Yogyakarta.
Pada tahun 1996, berdirilah dojo aikido pertama di Yogyakarta yang berlokasi di lantai dua sebuah ruko di kawasan Janti, tepat di depan lokasi Sho Hei Kan Dojo saat ini. Dojo tersebut diberi nama Dojo Jogja. Pada awal berdirinya, keanggotaan dojo masih bersifat terbatas. Namun, seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap aikido, pada tahun 1997 Dojo Jogja resmi dibuka untuk umum.
Setelah masa tugas Maeda Sensei berakhir, pembinaan aikido di Indonesia dilanjutkan oleh Yahagi Sensei (Dan 3). Di bawah bimbingan beliau, perkembangan aikido di Yogyakarta terus dipantau secara rutin melalui kunjungan bulanan. Berkat pembinaan yang konsisten, Dojo Jogja mengalami pertumbuhan yang pesat.
Seiring bertambahnya jumlah anggota, lokasi latihan beberapa kali berpindah. Setelah satu tahun beroperasi, latihan dipindahkan ke Sanggar Senam Savitri di kawasan Kemetiran. Selanjutnya, dojo berpindah ke Aula Universitas Sanata Dharma berkat dukungan salah satu aikidoka, Tata, yang saat itu merupakan mahasiswa universitas tersebut.
Setelah masa tugas Yahagi Sensei di Indonesia selesai, beliau digantikan oleh Shigekoshi Satoru Sensei. Kehadiran Satoru Sensei memberikan warna baru bagi perkembangan aikido di Yogyakarta. Pada masa itu, beliau mengikuti program pembelajaran bahasa Indonesia di Wisma Bahasa, Demangan Baru, Mrican, Yogyakarta. Kedekatan lokasi tersebut memungkinkan para aikidoka untuk berlatih dan belajar langsung dari beliau dengan intensitas yang lebih tinggi, bahkan hampir setiap hari.
Pada tahun 1998, Agus Hermawan — yang kini menjabat sebagai Kancho Sho Hei Kan — bergabung dan mulai menekuni aikido di Dojo Jogja yang saat itu masih berlokasi di Universitas Sanata Dharma. Sejak saat itu, beliau turut menjadi bagian dari perjalanan panjang perkembangan aikido di Yogyakarta hingga lahirnya Sho Hei Kan Aikido Dojo seperti yang dikenal saat ini.
Semangat para perintis, dedikasi para pengajar, serta kebersamaan seluruh anggota menjadi fondasi kuat bagi perkembangan Sho Hei Kan Aikido Dojo dalam mewariskan nilai-nilai aikido kepada generasi berikutnya.
Sejarah Sho Hei Kan Aikido Dojo
Pendirian Sho Hei Kan Aikido Dojo berawal dari pertemuan antara Agus Hermawan dan Shigekoshi Satoru Sensei pada tahun 1998. Saat itu, Satoru Sensei merupakan salah satu instruktur aikido yang ditugaskan oleh Pemerintah Jepang untuk mengembangkan dan mengajarkan Aikido di Indonesia.
Hubungan keduanya mulai terjalin ketika Agus Hermawan bergabung dan berlatih di Dojo Jogja yang saat itu berlokasi di Aula Universitas Sanata Dharma. Satoru Sensei yang sering memberikan pelatihan di lokasi tersebut melihat semangat serta dedikasi Agus Hermawan dalam mempelajari Aikido. Dari sinilah terbangun hubungan guru dan murid yang semakin erat.
Seiring berjalannya waktu, minat dan komitmen Agus Hermawan terhadap Aikido semakin berkembang. Dengan dukungan dan inspirasi dari Satoru Sensei, pada akhir tahun 1998 beliau mulai membangun sebuah dojo di kawasan Janti, Yogyakarta. Dojo ini diharapkan dapat menjadi pusat kegiatan sekaligus wadah bagi berkembangnya komunitas Aikido di Yogyakarta.
Pada bulan Juni 1999, dojo tersebut mulai aktif menyelenggarakan kegiatan latihan secara rutin. Setelah melalui berbagai persiapan, pada tanggal 16 Desember 1999 dojo tersebut resmi diresmikan dengan nama Sho Hei Kan Dojo.
Nama Sho Hei Kan merupakan gagasan dari Shigekoshi Satoru Sensei dan memiliki makna yang mendalam. Kata "Sho" diambil dari nama Shoji Nishio Sensei, sedangkan "Hei" berasal dari nama Morihei Ueshiba Sensei, pendiri Aikido. Adapun "Kan" berarti tempat atau balai latihan. Dengan demikian, Sho Hei Kan dapat dimaknai sebagai tempat berlatih Aikido yang menggabungkan nilai-nilai dan teknik yang diwariskan oleh Morihei Ueshiba serta pendekatan yang dikembangkan oleh Shoji Nishio.
Selain itu, nama Sho Hei Kan juga memiliki makna historis yang unik. Nama tersebut mengingatkan pada dua era penting dalam sejarah Jepang, yaitu era Showa dan Heisei, yang menjadi saksi perkembangan serta penyebaran Aikido ke berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia.
Dalam perjalanan perkembangannya, Sho Hei Kan Aikido Dojo berada di bawah bimbingan dan pengawasan langsung Shigeru Suzuki Sensei, yang menjadi bagian penting dalam pembentukan arah teknis dan filosofi latihan di Sho Hei Kan. Melalui hubungan keguruan tersebut, para instruktur dan anggota Sho Hei Kan memperoleh kesempatan untuk mendalami Aikido sesuai dengan garis ajaran (lineage) yang diwariskan oleh para guru besar Aikido Jepang.
Setelah wafatnya Shigeru Suzuki Sensei, hubungan keguruan dan pengawasan teknis Sho Hei Kan Aikido Dojo dilanjutkan secara langsung oleh Shigekoshi Satoru Sensei. Hingga saat ini, Satoru Sensei tetap menjadi pembimbing utama sekaligus penjaga lineage keguruan Sho Hei Kan, memastikan bahwa nilai-nilai, teknik, dan filosofi Aikido yang diwariskan oleh para guru terdahulu tetap terjaga dan diteruskan kepada generasi berikutnya.
Melalui kesinambungan hubungan guru dan murid tersebut, Sho Hei Kan tidak hanya berkembang sebagai tempat berlatih Aikido, tetapi juga sebagai wadah untuk menjaga tradisi, etika, dan semangat Budo yang menjadi inti ajaran Aikido.
Sejak diresmikan, Sho Hei Kan Aikido Dojo terus berkembang menjadi salah satu pusat pembelajaran Aikido di Yogyakarta. Dengan menjunjung tinggi nilai-nilai disiplin, keharmonisan, rasa hormat, dan pengembangan diri, dojo ini berkomitmen untuk melanjutkan semangat para pendiri dan guru yang telah meletakkan fondasinya sejak awal serta meneruskannya kepada generasi aikidoka masa depan.
Organisasi & Lineage
Lineage Aikido
Lineage Aikido: Morihei Ueshiba → Kisshomaru Doshu → Moriteru Doshu
Keguruan Shoheikan: Morihei Ueshiba → Shoji Nishio → Shigeru Suzuki → Satoru Shigeoashi → Agus Hermawan
Struktur Keguruan
- Doshu Aikikai — Moriteru Ueshiba (Kepala Aikikai Foundation & Hombu Dojo)
- Pembimbing Utama — Shigekoshi Satoru Sensei (Penjaga lineage ShoHeiKan)
- Kancho ShoHeiKan — Agus Hermawan (Kepala Dojo ShoHeiKan Yogyakarta)
Jadwal Latihan
Reguler Class
Setiap Senin
19.00 WIB
Kids Class
Setiap Sabtu
16.00 WIB
Youth Class
Setiap Sabtu
18.30 WIB
Cabang Dojo & Kontak
Branch Dojo
ShoHeiKan Nishi Sumatera
Kontak
- 📞 +62 852-2813-1676
- 📞 +62 821-3440-6089
- ✉️ shoheikan@gmail.com